Do our best for our patients 💜
Updated: Nov 8, 2020
Paul berfikir, kehidupan yang dihabiskan dalam ruang diantara kehidupan dan kematian itu tidak hanya akan menunjukkan suatu tindakan welas asih. Namun, hal itu dapat meningkatkan atau menyadarkan keberadaannya sendiri. Menjadi dokter residen membuat Paul sadar beberapa hal. Paul mengamati banyak penderitaan, menangani berbagai kasus trauma dengan temannya.
Suatu hari datanglah seorang ibu yang belum lama didiagnosa kanker otak. Dia kebingungan, ketakutan dan dilanda ketidakpastian. Karena merasa kelelahan, Paulpun tak bisa berempati terhadap kondisi ibu tersebut. Semua pertanyaan dijawab dengan buru-buru dengan keyakinan jika operasi yang akan dilakukan terhadap ibu tersebut pasti berhasil. Paul merasa jika seharusnya dia menyisihkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan ibu dengan jujur, karena sejatinya setiap pasien berhak menerima hal tersebut.
Diantara semua tragedi dan kegagalan, Paul khawatir jika dia tidak mampu lagi melihat betapa pentingnya hubungan antarmanusia bukan hubungan antara pasien dan keluarga mereka. Melainkan, hubungan antara dokter dan pasien. Sebuah keunggulan tehknik tidaklah cukup. Sebagai seorang dokter residen, cita-cita tertinggi Paul bukanlah menyelamatkan nyawa orang karena pada akhirnya manusia akan meninggal. Paul hanya ingin membimbing pasien atau keluarga agar bisa memahami kematian atau penyakit yang diderita. Hal ini sejalan dengan pengalaman Paul ketika datang seorang pasien dengan perdarahan kepala fatal. Hal penting pertama yang seorang dokter bedah saraf bisa lakukan adalah sebuah percakapan yang mampu memberikan pengaruh terhadap keluarga tentang bagaimana cara mengingat kematian itu untuk selamanya, dari perasaan pasrah dengan penuh ketenangan hingga perasaan menyesal secara terang-terangan. Paul beranggapan, pada pasien dengan penderita kerusakan otak yang parah. Penderitaan yang sering kali lebih dirasakan oleh keluarga dibandingkan pasien itu sendiri.
Benar adanya, ketika salah satu keluarga kita menderita suatu penyakit, bukan dia yang hanya merasakan penderitaan tersebut. Namun, kita sebagai keluarga tentu juga merasakannya. Betapa tidak, kenangan yang telah terukir serta angan-angan yang telah menjadi tujuan, kini tinggal serpihan-serpihan layaknya debu yang hilang seiring angin berhembus. Sebagai seorang terdekat, kita harus tetap kokoh dan terus memberikan aura positif. Perhatian serta dorongan semangat untuk tetap bertahan adalah hal indah yang layak untuk tetap kita curahkan. Sekecil apapun kemungkinan seorang pasien sembuh, setidaknya dia tidak akan meninggalkan penyesalan dalam akhir hidupnya, pun kita sebagai keluarga atau tenaga kesehatan itu sendiri. Do our best :) !!





Comments